Semua pekerjaan itu mulia. Selama masih dalam koridor kebaikan. Salah satunya supir taksi.

3 Bulan yang lalu, saya melihat kiriman dan kiriman dari Aji Prasetyo di Facebook. Mengisahkan tentang pertemuannya dengan seorang supir taksi yang merupakan insinyur teknik sipil lulusan Jerman, Peter Yan. Penasaran dengan orang tersebut, saya pun googling dan mendapat artikel dari Hipwee dan berita dari Detik.

Sebelumnya, saya juga pernah membaca kisah seorang supir taksi di Singapura, Cai Mingjie, yang dulunya merupakan seorang peneliti bidang biologi. Dia bahkan menerbitkan buku berjudul “Diary of a Taxi Driver: True Stories From Singapore’s Most Educated Cabdriver”, yang merupakan kumpulan blogpostnya dan beberapa perubahan. Sayangnya, blognya sudah nonaktif. Namun masih dapat diakses arsipnya di Archive.org.

Dari kisah tersebut, banyak pelajaran berharga yang bisa kita cermati. Hidup itu merupakan roda yang terus berputar. Ada kondisi teratas, dan kondisi terbawah. Bukan tentang masalah dan nasib, tapi bagaimana cara kita menyikapi kehidupan ini. Lihatlah dari sudut pandang berbeda, bukan sudut pandang manusia yang sedang terpuruk.

Tidak akan cukup waktu kita apabila melakukan semua hal sendirian. Karenanya, pelajarilah pengalaman orang lain.

Iklan